Berikan Saya Kepercayaan

Fitri : Kesucian Itu

Apakah engkau merasa bersyukur telah melepas masa lapar

dan dahaga dengan segala ?

Syukurlah, karena kita masih punya segala dan apa-apa

Apakah engkau pernah terfikir untuk menyambut idul fitri

dan hari kemenangan tanpa segala?

Syukurlah, karena masih banyak orang tanpa segala, dan tak punya apapun!

Kefitrian dan Kesucian, sayangnya, telah terusik

oleh keserbaan dan keanekaan yang begitu menggempita

sehingga, astaghfirullah, tanpa sadar

Kita telah mencederai perasaan mereka yang melepas masa

berlapar dan berdahaga puasa, tanpa mereka mampu terfikir

bahkan hanya mimpi saja  tak sanggup,  punya :

pun sehelai baju koko baru,

pun sebungkus kecil nastar,

pun semangkuk sayur lodeh,

pun sekaleng minuman berkarbonat,

pun sebidang dinding rumah bercat kapur baru,

pun selembar karpet plastik menutupi lubang pada lantai,

pun sehelai princess-style buat si bungsu,

pun……

pun……

Ya, Allah, Ya, Rabb

Mereka yang cuma punya sebuah senyum getir,

sembari menulisi “Selamat Iedul Fitri” dengan tangan gemetar

karena tetap lapar,

Sebab selepas berbuka dengan air putih, belum lagi

ada yang mengganjal perut yang melompong-kosong,

Mereka yang tersenyum getir, rasanya

lebih pantas menikmati lebaran ini karena penderitaan yang

jauh berkepanjangan dan tak habis-habisnya……

Selamat iedul fitri,

penuhi dengan semangat berbagi, kebersamaan

dan kesederhanaan

The Mall : Hiburan Itu

Mal adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan jalan yang teratur sehingga berada diantara antar toko-toko kecil yang saling berhadapan [1]. Karena bentuk arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya sebuah mal memiliki tinggi tiga lantai.

( sumber kutipan dari Wikipedia )

Konsep “Mal” pada mulanya dimaksudkan sebagai one stop shopping, dimana ketika kita berada di sebuah mal maka semua kebutuhan akan terpenuhi. Dari kebutuhan remeh-temeh semacam garam dapur, sampai kepada kebutuhan rileks semacam pijat refleksi. Bahkan konsep mal era belakangan ini menyentuh sampai kepada kebutuhan hiburan anak-anak semacam waterboom, bahkan sampai kepada “rumah sewa pendek waktu” yang dapat digunakan untuk tempat peristirahatan bila pemenuhan kebutuhan belanja dengan kisaran waktu “ten to five“.

Namun, di sebuah kota sedang semacam Pontianak, mal telah digeser fungsi dan keberadaannya oleh pemanfaatan sebagian masyarakat, terutama masyarakat yang haus akan pemenuhan hiburan dan rekreasi sebagai tempat untuk “just look and walking“. Akhirnya, ketika saat libur tiba, mal penuh sesak dengan orang yang mencari tempat cuci mata, rekreasi hati, sampai kepada temu kangen sahabat yang sudah lama tidak saling ketemu dan bercengkerama. Bahkan, bagi anak-anak muda—didominasi oleh ABG—mal dijadikan wahana menjalin hubungan dekat dan saling mengikat diri.

Di bulan Puasa yang suci ini, mal pun dijadikan tempat melepaskan kepenatan setelah sehari penuh menjalankan ibadah kepada Allah. Maka, yang mendominasi pengunjung adalah tempat-tempat makan, tempat minum kopi, tempat relaksasi dan kebugaran,  ataupun bangku-bangku di sepanjang koridor pejalan kaki. Biarlah, yang penting, tidak mengganggu kekhusu’an dan nilai ibadah yang telah dijalankan sehari penuh. Tidaklah menjadi sia-sia.

Pencerahan : Ilmu dan Kemuliaan

 

Aku letakkan ilmu pada lapar dan lelah, tapi mereka mencarinya pada kenyang dan santai, Aku letakkan kemuliaan pada Ketaatan Kepada-Ku, tapi mereka mencarinya dalam kepatuhan kepada penguasa

Itu sebaris kata-kata, dari sekian banyak kata-kata bermakna yang telah saya terima di ponsel, dimana setiap harinya minimal satu kata berhikmah dari owner sms berlangganan milik Jalaluddin Rahmat. Dalam bulan puasa yang mengandung makna berlapar-lapar demi ibadah sebagai salah satu Rukun Islam, maka kalimat diatas sangat tepat untukdimaknai. Allah memang tidak memberikan karunia secara langsung kepada manusia, melainkan melalui jalan hikmah. Ketika kita ’sengaja’ mendahagakan diri dengan lapar dan haus, secara tidak langsung Allah mengajarkan kepada kita berbagai ilmu. Yang termudah dimaknai, tentulah ilmu “shabar“, selain ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu “toleransi” dengan “yang tak berkecukupan,” ilmu “berbagi” dengan “yang tak berpunya”, ataupun ilmu “ikhlas” dengan “yang tak berdaya”. Hikmah ini, tak akan kita dapatkan ketika kita merasa kenyang. Karena, kenyang membuat kita enggan berfikir.

Begitupun Allah telah memaknakan sebuah kemuliaan yang akan kita sandang ketika kita patuh hanya kepada-Nya.  Karena Allah telah berfirman yang artinya, “Semulia-mulia manusia di sisi-Ku adalah mereka yang bertaqwa“. Taqwa merupakan kata akhir dari sebuah rasa takut kepada Allah, dalam pengertian takut berbuat dosa, dan takut menentang semua kewajiban dan larangan-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk menjadi “mulia” semata-mata karena kepatuhan kepada-Nya, walaupun dengan sebuah ancaman dari penguasa sekalipun. Yang paling gampang, misalkan saja, ketika dilaksanakan sebuah rapat penting, yang dipimpin oleh Gubernur atau Walikota atau Bupati, sementara sudah masuk waktu shalat dan diperkirakan rapat akan berjalan panjang melampaui waktu shalat tadi, tentulah kita tak perlu ragu meminta izin untuk menjalankan shalat, tanpa mesti takut karena sedang berada bersama penguasa. Karena, predikat “kemuliaan” yang digadang-gadangkan oleh Allah, sifatnya adalah pasti dan kekal.

Kebiasaan : Kopi Itu

about coffee

about coffee

Secangkir kopi nikmat tak asal dibuat. Perlu pengetahuan dan teknik khusus. Jika sudah tahu rahasia-rahasia kecil itu, Anda tentu tak mau lagi sembarangan menyeduh secangkir kopi. Malah mungkin bakal berhenti merokok karena penggemar rokok sejati itu tidak merokok…..

Kalimat itu menjadi kutipan penjelasan yang dituliskan di bagian belakang cover majalah ini. Saya mendapatkan majalah ini terselip di sekian deretan majalah yang diterbitkan dalam sepekan itu, sekitar awal 2008 di Toko Buku “Gunung Agung” Jakarta. Saya merasa perlu mengulas sedikit dengan beberapa kutipan dari majalah unik ini yang diterbitkan sebagai salah satu dari serial “Gaya Hidup Sehat”.

Kebiasaan minum kopi adalah rutinitas yang biasa kami lakukan bersama teman-teman. Ketika tiba Bulan Puasa seperti sekarang ini, kami mengalihkan aktivitasnya di malam hari, di beberapa tempat berbeda daripada kedai kopi favorit yang biasanya. Beberapa teman agak mengeluh, karena kualitas kopi yang disajikan tidak senikmat seduhan kedai kopi langganan kami. Oleh sebab itulah, saya tergelitik untuk mencari kembali majalah yang telah sekian bulan saya beli, akhirnya ditemukan di tumpukan majalah-majalah favorit saya. Di dalam cerita yang tersajikan sebagai perjalanan panjang si “Hitam Pahit” dari asal muasalnya, sampai ke cara penyajian agar terasa nikmatnya.

Menurut cerita—seperti saya kutipkan di bagian awal majalah ini—di tanah Afrika Timur hiduplah seorang gembala kambing bernama Kaldi. Suatu malam kambing-kambingnya hilang, keesokan harinya ia menemukan kambing-kambingnya terlihat gembira, bergerak lincah di dekat pohon berdaun gelap berbuah merah. Penasaran, Kaldi ikut mengunyah buah tadi dan segera ia merasa lebih berenersi. Ia menduga, prilaku kambingnya yang aneh disebabkan oleh biji buah yang kelak akan dikenal sebagai “kopi”.

Diungkapkan pula secara menarik di dalam “A Passion of Coffee” tadi adalah Rahasia-Rahasia Kecil Untuk Kopi agar lebih nikmat. Diantaranya adalah (1) Jangan biarkan kopi tubruk lebih dari 20 menit. Flavor kopi yang nikmat akan lenyap begitu saja bila didiamkan lebih dari 20 menit. Bila ingin lebih nikmat, beli biji kopi panggang, lalu giling sendiri ketika ingin menyeduhnya. (2). Jodoh ideal minum kopi, menyesuaikan makanan kecil dengan jenis kopi yang diminum. Untuk jenis kopi Indonesia paling cocok dipadukan dengan kacang tanah atau singkong goreng. (3) Penikmat kopi sejati tidak merokok. Kopi adalah komoditi yang sangat sensitif, sehingga bau asap rokok akan merusak aroma dari rasa kopi. (4) Disimpan seperti obat, maksudnya tempat ideal untuk menyimpan kopi agar terjaga kenikmatannya adalah tempat bersih, kering, tertutup rapat, sejuk dan gelap. (5) Dua sendok makan untuk 200 ml air, demikianlah takaran yang pas untuksebuah kenikmatan. Aduk campuran air mendidih dan bubuk kopi, agar minyak di dalam kopi tercampur dengan air. Baru ditambahkan dengan gula secukupnya. (6) Lebih baik dimasukkan ke termos. Maksudnya, kelebihan kopi panas sebaiknya jangan terus menerus dihangatkan dalam mesin pembuat kopi, tapi segera masukkan ke dalam termos.

Demikianlah sedikit ‘cerita’ tentang kopi. Selamat menikmati kopi dengan senikmat-nikmatnya……

« Previous entries Next Page » Next Page »