Pilkada : Kekuasaan Itu…..

Adakah seorang Amien Rais merasa amat bersalah dengan situasi yang terjadi sekarang ini? Apa yang menjadi pemikirannya tentang negara federasi—yang untuk selanjutnya—pada masa sekarang ini diterjemahkan sebagai otonomi daerah lewat olahan tangan dingin Ryas Rasyid, ternyata telah melahirkan kekuasaan baru, pemegang otoritas daerah yang otoriter, dan thinking of anything to doing everything. Lihat saja, pemekaran kabupaten/kota di seluruh Indonesia telah menginjak angka ratusan. Pernah anda bayangkan, ratusan walikota dan bupati berkumpul di suatu acara, dan semuanya membanggakan apa yang telah dilakukannya untuk daerahnya masing-masing.

Lalu, seperti apa yang telah mereka perbuat? Mereka berlomba-lomba membangun proyek mercusuar berbujet belasan sampai puluhan milyard. Terbayangkah anda di awal tahun 90-an proyek gila-gilaan ini dibangun bertebaran di seluruh propinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Tak pernah terlintas sedikitpun, karena saat ini kita masih terbelenggu oleh kemiskinan, keterbelakangan, dan kesenjangan sosial yang masih amat lebar. Jika, sekarang, seluruh wilayah pemekaran berlomba-lomba memegahkan daerahnya dengan gedung dewan, gedung kantor pemerintahan, bahkan sampai kepada rumah jabatan ketua DPRD dan rumah jabatan gubernur, walikota dan bupati yang begitu mewahnya, adakah ini berarti bahwa kita sudah mulai makmur ?

Pilkada, melahirkan kekuasaan. Dan, kekuasaan itu melahirkan kerakusan, kepongahan, dan kejumawaan. Yang ada sekarang adalah sekelompok masyarakat—secara berani dan tak tahu malu—mengatasnamakan kepentingan peningkatan percepatan pertumbuhan daerah tertentu, berjuang habis-habisan di pintu DPR-RI dan DPD-RI guna mendapatkan selembar legalitas : propinsi atau kabupaten/kota pemekaran. Adakah niat itu sebanding paralel dengan kehidupan masyarakat yang telah meninggalkan najis keterpurukan ekonomi? Sesungguhnya tidak. Di koran-koran dan televisi-televisi secara rutin menyiarkan bagaimana di tengah kota Makassar mencuat kasus gizi buruk yang memakan korban anak-anak tewas. Di kota-kota, masyarakat pada level bawah, masih antre minyak tanah sampai dua kilo meter panjangnya antrean jirigen. Pada level masyarakat menengah, kelangkaan gas elpiji mewarnai dan mengimbangi kelangkaan mi-ta, ditengah gagahnya pemerintah mengumandangkan program pengalihan kebiasaan masyarakat dari minyak tanah kepada gas elpiji. Di beberapa daerah, byar-pet listrik negara masih menjadi menu harian di beberapa daerah, air bersih ( katanya, walaupun setelah terukur kadar lumpurnya masih tinggi ) menjadi keluhan masyarakat setengah mencaci maki.

Lalu, kemana hati nurani gubernur, walikota, bupati, ketua dan anggota dewan—-di Indonesia diembel-embeli kata terhormat—-melihat fenomena masyarakat yang masih amat menderita? Ternyata, hati nurani hanya terbungkus rapi dalam kantong janji-janji yang begitu lantang diungkapkan ketika kampanye pilkada……

Soekarno-Hatta : Suatu siang

 

Perjuangan melepaskan diri dari himpitan kekesalan dan kejenuhan di depan konter 20 Batavia-Air bak sebuah evolusi. Berjalan lamban, tapi penuh strategi dan winning tactically. Sekian banyak orang, saling berebut mencari perhatian ‘petugas’ konter. Bukan petugas, sih, sebetulnya. Karena profesinya adalah seorang penghubung antara agen penerbangan dengan para pembeli. Bahasa tidak halusnya, seorang calo. Namun, dia, a chinese woman, eastern face, nicely, dan luar biasa tangguh. A fighting worker. Bagaimana tidak? Jam 04.00 bahkan lebih awal sedikit, sudah beranjak dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jalan masih lengang, namun suasana itu tidak mampu menenggelamkan gambaran ‘kebuasan’ Jakarta dalam pertarungan mencari penghasilan bagi mereka yang—mau tidak mau—tak lagi punya pilihan mundur. Setelah itu, menit demi menit, sampai jam demi jam, bergumul dengan segenap keinginan, tegur sapa, bujuk rayu, sampai kepada pemaksaan bahkan sumpah serapah akan sebuah pemenuhan terhadap tersedianya tiket pesawat yang dipesan. Dan, itu berakhir sekitar pukul 18.00. Karena Jakarta begitu terbelenggu dengan kemacetan, sampai di tempat peristirahatan home sweet home, tak pernah kurang dari pukul 20.00. Demikian seterusnya, rutin dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.

Namun, dia begitu disukai. Profesinya, telah membantu banyak orang, bahkan menjadi prosedur standar banyak pejabat, anggota dewan, pebisnis, organisator, sampai kepada masyarakat biasa untuk mem”biasa”kan diri pada empat langkah : (1) Angkat telepon, (2) sebut nama, (3) sebut pilihan penerbangan, dan (4) ambil tiketnya di bandara. Begitu simpel. Jauh dari keribetan prosedur berbelat-belit sebuah agensi penerbangan. 

Dan, bandara Soekarno-Hatta, suatu siang. Semua orang ingin segera mendapatkan tiket. Semua orang—tiba-tiba—merasa menjadi yang paling kangen dengan keluarga ( padahal selama 3 hari di Jakarta, baru dua kali menelepon istri di rumah. Itupun cuma sekedar mengingatkan agar tidak lupa memesan tukang tebas rumput agar merapikan halaman……). Semua orang tiba-tiba, merasa punya alasan yang paling masuk akal untuk diberikan green card. Diprioritaskan mendapatkan sehelai tiket, ditengah sekian ribu orang warga keturunan chinese yang pada pekan-pekan tertentu setahun dua kali, punya satu tujuan untuk datang ke kota khatulistiwa, Pontianak. Ritual sembahyang kubur.

Aku menghapus keringat berkali-kali. Hanya melihat dari kejauhan, berharap sang fighting worker menatapku, dan punya sense khusus untuk menyelinapkan sehelai tiket di balik tumpukan kertas berisikan ratusan nama calon penumpang ( yang sudah pasti, ada yang bakal tak kebagian tiket ), untukku……