Perjuangan melepaskan diri dari himpitan kekesalan dan kejenuhan di depan konter 20 Batavia-Air bak sebuah evolusi. Berjalan lamban, tapi penuh strategi dan winning tactically. Sekian banyak orang, saling berebut mencari perhatian ‘petugas’ konter. Bukan petugas, sih, sebetulnya. Karena profesinya adalah seorang penghubung antara agen penerbangan dengan para pembeli. Bahasa tidak halusnya, seorang calo. Namun, dia, a chinese woman, eastern face, nicely, dan luar biasa tangguh. A fighting worker. Bagaimana tidak? Jam 04.00 bahkan lebih awal sedikit, sudah beranjak dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jalan masih lengang, namun suasana itu tidak mampu menenggelamkan gambaran ‘kebuasan’ Jakarta dalam pertarungan mencari penghasilan bagi mereka yang—mau tidak mau—tak lagi punya pilihan mundur. Setelah itu, menit demi menit, sampai jam demi jam, bergumul dengan segenap keinginan, tegur sapa, bujuk rayu, sampai kepada pemaksaan bahkan sumpah serapah akan sebuah pemenuhan terhadap tersedianya tiket pesawat yang dipesan. Dan, itu berakhir sekitar pukul 18.00. Karena Jakarta begitu terbelenggu dengan kemacetan, sampai di tempat peristirahatan home sweet home, tak pernah kurang dari pukul 20.00. Demikian seterusnya, rutin dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.
Namun, dia begitu disukai. Profesinya, telah membantu banyak orang, bahkan menjadi prosedur standar banyak pejabat, anggota dewan, pebisnis, organisator, sampai kepada masyarakat biasa untuk mem”biasa”kan diri pada empat langkah : (1) Angkat telepon, (2) sebut nama, (3) sebut pilihan penerbangan, dan (4) ambil tiketnya di bandara. Begitu simpel. Jauh dari keribetan prosedur berbelat-belit sebuah agensi penerbangan.
Dan, bandara Soekarno-Hatta, suatu siang. Semua orang ingin segera mendapatkan tiket. Semua orang—tiba-tiba—merasa menjadi yang paling kangen dengan keluarga ( padahal selama 3 hari di Jakarta, baru dua kali menelepon istri di rumah. Itupun cuma sekedar mengingatkan agar tidak lupa memesan tukang tebas rumput agar merapikan halaman……). Semua orang tiba-tiba, merasa punya alasan yang paling masuk akal untuk diberikan green card. Diprioritaskan mendapatkan sehelai tiket, ditengah sekian ribu orang warga keturunan chinese yang pada pekan-pekan tertentu setahun dua kali, punya satu tujuan untuk datang ke kota khatulistiwa, Pontianak. Ritual sembahyang kubur.
Aku menghapus keringat berkali-kali. Hanya melihat dari kejauhan, berharap sang fighting worker menatapku, dan punya sense khusus untuk menyelinapkan sehelai tiket di balik tumpukan kertas berisikan ratusan nama calon penumpang ( yang sudah pasti, ada yang bakal tak kebagian tiket ), untukku……
