Puisi : Kita Bukanlah Siapa-Siapa

Ketika kita sudah menjadi besar, maka kita tidak lagi merasa takut

Ketika kita sudah mampu berdiri, maka kita tak lagi mau berpegangan

Ketika kita sudah tak sabar ingin berlari, maka kita tidak lagi menapak perlahan

Ketika kita sudah merasa kuat, maka kita tidak lagi memerlukan pelindung

Kalau kita merasa sangat mampu, maka kita tidak lagi memerlukan bantuan

Maka, kita merasa kita adalah kita dengan segala kemampuan

Renungkanlah sejenak, wahai semua….

Seringkali kita lupa sesuatu di masa lampau,

Ketika kita masih kecil, senantiasa kita ingin dibela

Ketika kita masih merangkak tertatih, senantiasa kita ingin dituntun

Ketika kita masih diam termangu, senantiasa ada yang mengajak bergerak

Ketika kita lemah tak bertenaga, senantiasa ada yang menggenggamkan kekuatan

Ketika kita tak memiliki apa-apa, senantiasa yang mengulurkan harapan

Adakah kita bisa dengan sendirinya tanpa memerlukan orang lain?

Dalam ulang tahun Ke duapuluhsembilan,

Ketika kita sudah menjadi semakin berumur dan matang,

Punyakah kita kekuatan mata hati untuk merenung,

Kita dianggap besar, karena masih ada yang kecil di sekeliling kita

Kita dianggap melimpah, karena masih ada yang kekurangan

Kita dianggap kuat, karena masih ada yang berteriak takut ditindas

Kita dianggap punya banyak, karena masih ada yang menadah tangan

Kita dianggap punya bagian penuh, karena masih ada mengharap sepersekian bagian

Jika demikian adanya kita,

Punyakah kita ruang kecil di dalam hati kita masing-masing

Untuk memasukkan berbagai keinginan, walaupun cuma setitik besarnya :

Keinginan untuk memandang yang lain sebagai saudara

Keinginan untuk senantiasa ingin berbagi,

Keinginan untuk mempererat genggaman kebersamaan,

Keinginan untuk saling mengulur tangan,

Keinginan untuk saling memiliki harapan,

Keinginan untuk melafadzkan keikhlasan di setiap hembusan nafas

Keinginan bersama untuk hidup dan berusaha lebih panjang

Kita bukanlah siapa-siapa,

Kita ada karena ada yang lainnya hidup bersama kita

Kita ada karena kesempatan yang sama juga diberikan pada yang lainnya

Kita ada karena diberi tempat di tempat yang sama diberikan pada sesama

Selamat Ulang Tahun

Semoga Malaikat-malaikat Tuhan yang berada di bumi

Senantiasa mengangkat ke langit semua doa dan harapan dari

Keluarga besar kita di ujung Aceh sampai ujung Papua

Agar Kita senantiasa menjadi pohon yang rimbun,

Terus menjulang, dan terus meneduhi apapun yang hidup di sekitarnya

Posting : Keinginan Itu….

Kapan mau postingan lagi? Atau. “masih sering posting?”

Adalah dua pertanyaan yang kadang bikin saya jadi keder. Rasanya saya malu sama temen yang udah susah payah memandu web mana yang dipilih sebagai tempat nge-blog, sambil ber-hahahaha ngajarin nge-blog *saking gobloknya*, dan sampai kepada hal remeh-remeh tentang blog itu. Oops, I’m sorry friend. Memang, waktu yang tersisa dari sekian jam terjalani tiap hari jua lah yang menentukan apakah posting-memosting itu jadi rutinitas yang bisa dijalani. Pulang dari aktivitas kantoran, organisasi, temu politik, ngalor – ngidul – ngopi – ngejamz *maksudnya ber-jam session di mobil* dan sebagainya sudah menghabiskan delapan jam dari 9 to 5. Sampe di rumah, pas sedikit lagi mau adzan maghrib, mandi sebentar trus maghrib-an, selanjutnya menerima laporan anak-anak tentang hal-hal di sekolah sambil ditanya ini itu yang ga’ ngerti dari soal-soal IPA, Matematika, maupun PPKN.

Biasanya, sekitar jam setengah sembilan malam atawa sembilan lebih sedikit, masih ada aktivitas luar rumah yang masih juga seputaran dunia politik, dunia kerja swasta, dunia organisasi yang—kadang—tak terselesaikan siang hari, atau yang belum terjadwalkan *duh, seperti yang begitu pentingnya!*. Tapi, demikianlah adanya, bukannya mengada-ada, bukan pula membuat diri ini seperti memang sengaja tercampakkan di lembah kesibukan yang dibuat sedemikian nistanya. Hahahaha. Jadinya, pulang dari ‘keluyuran’ yang bujubune lebih banyak membuat kepala berdenyut-denyut, akhirnya ketika masih sempat membuka laptop di jam 12-an sampe satu dini hari yang tertinggal cuma ampas-ampas pemikiran, yang toch buat apa dituangkan dalam sebuah postingan.

Kadang, saya berfikir apakah menulis itu menjadi sangat sulit saat ini? Entahlah, padahal berbicara jadi jauh lebih mudah ketimbang menulis yang bahkan harus lebih dulu dicerna, dicermati, diatur sedemikian rupa sehingga tidaklah menjadi sesuatu yang ‘kering’ bahkan lebih parah lagi cuma sekadar jadi ’sampah’. Sungguh, keinginan itu masih tetap menggebu disini.

Entahlah……