Ketika kita sudah menjadi besar, maka kita tidak lagi merasa takut
Ketika kita sudah mampu berdiri, maka kita tak lagi mau berpegangan
Ketika kita sudah tak sabar ingin berlari, maka kita tidak lagi menapak perlahan
Ketika kita sudah merasa kuat, maka kita tidak lagi memerlukan pelindung
Kalau kita merasa sangat mampu, maka kita tidak lagi memerlukan bantuan
Maka, kita merasa kita adalah kita dengan segala kemampuan
Renungkanlah sejenak, wahai semua….
Seringkali kita lupa sesuatu di masa lampau,
Ketika kita masih kecil, senantiasa kita ingin dibela
Ketika kita masih merangkak tertatih, senantiasa kita ingin dituntun
Ketika kita masih diam termangu, senantiasa ada yang mengajak bergerak
Ketika kita lemah tak bertenaga, senantiasa ada yang menggenggamkan kekuatan
Ketika kita tak memiliki apa-apa, senantiasa yang mengulurkan harapan
Adakah kita bisa dengan sendirinya tanpa memerlukan orang lain?
Dalam ulang tahun Ke duapuluhsembilan,
Ketika kita sudah menjadi semakin berumur dan matang,
Punyakah kita kekuatan mata hati untuk merenung,
Kita dianggap besar, karena masih ada yang kecil di sekeliling kita
Kita dianggap melimpah, karena masih ada yang kekurangan
Kita dianggap kuat, karena masih ada yang berteriak takut ditindas
Kita dianggap punya banyak, karena masih ada yang menadah tangan
Kita dianggap punya bagian penuh, karena masih ada mengharap sepersekian bagian
Jika demikian adanya kita,
Punyakah kita ruang kecil di dalam hati kita masing-masing
Untuk memasukkan berbagai keinginan, walaupun cuma setitik besarnya :
Keinginan untuk memandang yang lain sebagai saudara
Keinginan untuk senantiasa ingin berbagi,
Keinginan untuk mempererat genggaman kebersamaan,
Keinginan untuk saling mengulur tangan,
Keinginan untuk saling memiliki harapan,
Keinginan untuk melafadzkan keikhlasan di setiap hembusan nafas
Keinginan bersama untuk hidup dan berusaha lebih panjang
Kita bukanlah siapa-siapa,
Kita ada karena ada yang lainnya hidup bersama kita
Kita ada karena kesempatan yang sama juga diberikan pada yang lainnya
Kita ada karena diberi tempat di tempat yang sama diberikan pada sesama
Selamat Ulang Tahun
Semoga Malaikat-malaikat Tuhan yang berada di bumi
Senantiasa mengangkat ke langit semua doa dan harapan dari
Keluarga besar kita di ujung Aceh sampai ujung Papua
Agar Kita senantiasa menjadi pohon yang rimbun,
Terus menjulang, dan terus meneduhi apapun yang hidup di sekitarnya

venus said,
July 28, 2008 at 12:01 am
siapa yg ulang taun? ini kadonya? sweet
hujan jam 13 said,
July 28, 2008 at 2:11 pm
@venus : yang ulang tahun, asosiasiku….hehehe
awisawisan said,
August 20, 2008 at 3:00 pm
assalaamu’alaykum
ciyeh, om…
kayakny uda agak lama nda berpuisi lewa blog inih…
rajin2 la di update, om.. hehe
fun2 said,
August 28, 2008 at 12:40 pm
keinginan bersama u/ hidup?…….boleh dibalik kah?…..hehehe…..kyknya setiap org pasti punya keinginan dan harapan…cuma kondisi aja yg membedakannya…tul kan?……………..maunya tuh spt pohon yg rimbun biar bs meneduhi semua yg manis2….hehe…bgs puisinya, ak mau donk dibuatin
hujan jam 13 said,
August 28, 2008 at 12:45 pm
@fun2 : Hidup bersama? Boleh juga tuh…..
Hehehehe, becanda aja. Salam kenal. Dan, kalo
dibikinin, dikirim kemana?
hanny said,
August 28, 2008 at 2:24 pm
aku bukan siapa-siapa tanpamu.
donidst009 said,
September 21, 2008 at 12:02 am
puisinya bagus, mantab dech. sering2 jak buat puisi siapa tahu bs jd pujangga he3x.
jimy said,
November 23, 2008 at 12:37 am
wah,,,, keren puisi’y pak
penuh arti n penuh makna