Pencerahan : Ilmu dan Kemuliaan

 

Aku letakkan ilmu pada lapar dan lelah, tapi mereka mencarinya pada kenyang dan santai, Aku letakkan kemuliaan pada Ketaatan Kepada-Ku, tapi mereka mencarinya dalam kepatuhan kepada penguasa

Itu sebaris kata-kata, dari sekian banyak kata-kata bermakna yang telah saya terima di ponsel, dimana setiap harinya minimal satu kata berhikmah dari owner sms berlangganan milik Jalaluddin Rahmat. Dalam bulan puasa yang mengandung makna berlapar-lapar demi ibadah sebagai salah satu Rukun Islam, maka kalimat diatas sangat tepat untukdimaknai. Allah memang tidak memberikan karunia secara langsung kepada manusia, melainkan melalui jalan hikmah. Ketika kita ’sengaja’ mendahagakan diri dengan lapar dan haus, secara tidak langsung Allah mengajarkan kepada kita berbagai ilmu. Yang termudah dimaknai, tentulah ilmu “shabar“, selain ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu “toleransi” dengan “yang tak berkecukupan,” ilmu “berbagi” dengan “yang tak berpunya”, ataupun ilmu “ikhlas” dengan “yang tak berdaya”. Hikmah ini, tak akan kita dapatkan ketika kita merasa kenyang. Karena, kenyang membuat kita enggan berfikir.

Begitupun Allah telah memaknakan sebuah kemuliaan yang akan kita sandang ketika kita patuh hanya kepada-Nya.  Karena Allah telah berfirman yang artinya, “Semulia-mulia manusia di sisi-Ku adalah mereka yang bertaqwa“. Taqwa merupakan kata akhir dari sebuah rasa takut kepada Allah, dalam pengertian takut berbuat dosa, dan takut menentang semua kewajiban dan larangan-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk menjadi “mulia” semata-mata karena kepatuhan kepada-Nya, walaupun dengan sebuah ancaman dari penguasa sekalipun. Yang paling gampang, misalkan saja, ketika dilaksanakan sebuah rapat penting, yang dipimpin oleh Gubernur atau Walikota atau Bupati, sementara sudah masuk waktu shalat dan diperkirakan rapat akan berjalan panjang melampaui waktu shalat tadi, tentulah kita tak perlu ragu meminta izin untuk menjalankan shalat, tanpa mesti takut karena sedang berada bersama penguasa. Karena, predikat “kemuliaan” yang digadang-gadangkan oleh Allah, sifatnya adalah pasti dan kekal.

4 Comments

  1. Bang Yudi said,

    September 21, 2008 at 1:51 pm

    Kalau sekarang sih wajar jak, Gubernurnye non muslim, Wagubnye non muslim & Singkawang punye walikota pun non muslim walaupun sempat ngaku-ngaku muslim dengan ikut shalat mayat di Singkawang Utara..

  2. esunfaiz said,

    September 22, 2008 at 6:58 pm

    Ilmu dan Kemuliaan, hmm menarik untuk difikirkan … namun yang wajib pertama kali difikirkan (oleh orang2 yang mau berfikir) adalah tujuan penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ada di alam sekitar di lingkungannya baik itu kejadian dan peristiwa yang mengalir dalam kehidupannya … jangan sampai kita berfikir (menyadari kenyataan) setelah kita berada di alam barzah

  3. Rian said,

    October 6, 2008 at 1:24 pm

    Taqwa…,begitu banyak terucap, begitu…gampang terdengar.
    Ada seorang sohib saya berkata,…saat ini salah satu pengaplikasian taqwa itu cukup mudah…,( menurut saya gak gampang, jawabnya begini ), salah satunya adalah menjauhkan diri dari PENCALEG-AN, pahammmmm….,he…he….pastilah banyak yang protes…tanyalah pada nurani masing2.

  4. awisawisan said,

    December 21, 2008 at 5:34 pm

    assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokatuh
    subhanallaah om,,,
    postingannya oke niih., :D


Post a Comment