
The Mall : Hiburan Itu
September 28, 2008 at 3:22 am (HarapNurani)
Tags: belanja, cuci mata, hiburan
Mal adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan jalan yang teratur sehingga berada diantara antar toko-toko kecil yang saling berhadapan [1]. Karena bentuk arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya sebuah mal memiliki tinggi tiga lantai.
( sumber kutipan dari Wikipedia )
Konsep “Mal” pada mulanya dimaksudkan sebagai one stop shopping, dimana ketika kita berada di sebuah mal maka semua kebutuhan akan terpenuhi. Dari kebutuhan remeh-temeh semacam garam dapur, sampai kepada kebutuhan rileks semacam pijat refleksi. Bahkan konsep mal era belakangan ini menyentuh sampai kepada kebutuhan hiburan anak-anak semacam waterboom, bahkan sampai kepada “rumah sewa pendek waktu” yang dapat digunakan untuk tempat peristirahatan bila pemenuhan kebutuhan belanja dengan kisaran waktu “ten to five“.
Namun, di sebuah kota sedang semacam Pontianak, mal telah digeser fungsi dan keberadaannya oleh pemanfaatan sebagian masyarakat, terutama masyarakat yang haus akan pemenuhan hiburan dan rekreasi sebagai tempat untuk “just look and walking“. Akhirnya, ketika saat libur tiba, mal penuh sesak dengan orang yang mencari tempat cuci mata, rekreasi hati, sampai kepada temu kangen sahabat yang sudah lama tidak saling ketemu dan bercengkerama. Bahkan, bagi anak-anak muda—didominasi oleh ABG—mal dijadikan wahana menjalin hubungan dekat dan saling mengikat diri.
Di bulan Puasa yang suci ini, mal pun dijadikan tempat melepaskan kepenatan setelah sehari penuh menjalankan ibadah kepada Allah. Maka, yang mendominasi pengunjung adalah tempat-tempat makan, tempat minum kopi, tempat relaksasi dan kebugaran, ataupun bangku-bangku di sepanjang koridor pejalan kaki. Biarlah, yang penting, tidak mengganggu kekhusu’an dan nilai ibadah yang telah dijalankan sehari penuh. Tidaklah menjadi sia-sia.
Soekarno-Hatta : Suatu siang
March 24, 2008 at 11:26 pm (HarapNurani)
Tags: Perjalanan
Perjuangan melepaskan diri dari himpitan kekesalan dan kejenuhan di depan konter 20 Batavia-Air bak sebuah evolusi. Berjalan lamban, tapi penuh strategi dan winning tactically. Sekian banyak orang, saling berebut mencari perhatian ‘petugas’ konter. Bukan petugas, sih, sebetulnya. Karena profesinya adalah seorang penghubung antara agen penerbangan dengan para pembeli. Bahasa tidak halusnya, seorang calo. Namun, dia, a chinese woman, eastern face, nicely, dan luar biasa tangguh. A fighting worker. Bagaimana tidak? Jam 04.00 bahkan lebih awal sedikit, sudah beranjak dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jalan masih lengang, namun suasana itu tidak mampu menenggelamkan gambaran ‘kebuasan’ Jakarta dalam pertarungan mencari penghasilan bagi mereka yang—mau tidak mau—tak lagi punya pilihan mundur. Setelah itu, menit demi menit, sampai jam demi jam, bergumul dengan segenap keinginan, tegur sapa, bujuk rayu, sampai kepada pemaksaan bahkan sumpah serapah akan sebuah pemenuhan terhadap tersedianya tiket pesawat yang dipesan. Dan, itu berakhir sekitar pukul 18.00. Karena Jakarta begitu terbelenggu dengan kemacetan, sampai di tempat peristirahatan home sweet home, tak pernah kurang dari pukul 20.00. Demikian seterusnya, rutin dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.
Namun, dia begitu disukai. Profesinya, telah membantu banyak orang, bahkan menjadi prosedur standar banyak pejabat, anggota dewan, pebisnis, organisator, sampai kepada masyarakat biasa untuk mem”biasa”kan diri pada empat langkah : (1) Angkat telepon, (2) sebut nama, (3) sebut pilihan penerbangan, dan (4) ambil tiketnya di bandara. Begitu simpel. Jauh dari keribetan prosedur berbelat-belit sebuah agensi penerbangan.
Dan, bandara Soekarno-Hatta, suatu siang. Semua orang ingin segera mendapatkan tiket. Semua orang—tiba-tiba—merasa menjadi yang paling kangen dengan keluarga ( padahal selama 3 hari di Jakarta, baru dua kali menelepon istri di rumah. Itupun cuma sekedar mengingatkan agar tidak lupa memesan tukang tebas rumput agar merapikan halaman……). Semua orang tiba-tiba, merasa punya alasan yang paling masuk akal untuk diberikan green card. Diprioritaskan mendapatkan sehelai tiket, ditengah sekian ribu orang warga keturunan chinese yang pada pekan-pekan tertentu setahun dua kali, punya satu tujuan untuk datang ke kota khatulistiwa, Pontianak. Ritual sembahyang kubur.
Aku menghapus keringat berkali-kali. Hanya melihat dari kejauhan, berharap sang fighting worker menatapku, dan punya sense khusus untuk menyelinapkan sehelai tiket di balik tumpukan kertas berisikan ratusan nama calon penumpang ( yang sudah pasti, ada yang bakal tak kebagian tiket ), untukku……

